Sabtu, 21 Desember 2013

KELOMPOK TERORIS ABU ROBAN


MUJAHIDIN INDONESIA TIMUR


KASUS


Terjadi penyergapan teroris di 5 lokasi :


1. Kebumen, Jawa Tengah


Lokasi : Rumah kontrakan di desa Ungaran, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, baru dihuni 7-10 hari.

Kejadian : Penangkapan, penggerebekan dan baku tembak.

Waktu penyergapan : Rabu, 8 Mei 2013 mulai pukul 18.00 WIB sampai Kamis, 9 Mei pukul 9.30 WIB.

Korban tewas : 3 orang ( Bastari, Toni, Bayu, alias Ucup)

Ditangkap : 2 orang (Farel, Wagiono, Slamet, Budi )

Barang bukti : bom pipa, granat, peluru, pistol, 3 motor, laptop, telepon genggam.



2. Batang, Jawa Tengah


Lokasi : Tempat kos di Jalan Raya Babadan, Desa Sempu, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Kejadian : penangkapan dan penembakan.

Waktu : Kamis, 9 Mei 2013 sekitar pukul 10.30 WIB.

Korban tewas : 1 orang (Abu Roban alias Untung alias Bambang Nangka)

Ditangkap : 1 orang (Puryanto)

Keterangan : Kedua tersangka merupakan pimpinan halaqah Ciledug. Keduanya termasuk kelompok Abu Umar yang juga otak perampokan toko emas di Tambora, Jakarta Barat. Terlibat dalam pendanaan teror di Poso dan perampokan di BRI di Batang, Jawa Tengah. Di Kendal juga di tangkap teroris Iwan.


3. Tangerang Selatan, Banten dan Jakarta


Lokasi : Jalan Arya Putra, Serua Indah, Tangerang Selatan.

Kejadian : Penangkapan

Waktu : Rabu, 8 Mei 2013 malam.

Ditangkap : 5 orang (Faisal alias Boim, Endang, Agung, Agus, Widharto dan Imam)


4. Kabupaten Bandung, Jawa Barat


Lokasi : Rumah kontrakan di RT 02 RW 08 Kampung Baturengat Hilir, Desa Cigondewah, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.

Kejadian : Penggerebekan dan baku tembak.

Waktu : Rabu, 8 Mei 2013 mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 19.30.

Korban Tewas : 3 orang (Budi alias Angga, Junet alias Encek, Sarame).

Ditangkap : 2 orang (William Maksum alias Acum alias Dadan, Haris Fauzi alias Jablud).

Barang Bukti : Senjata berjenis revolver 2 unit dan sebuah pistol, bom pipa.

Keterangan : Penyergapan merupakan hasil pengembangan dari penangkapan terhadap WM alias Acum alias Dadan di jalan Cipacing, Bandung, pada Selasa, 17 Mei 2013 pukul 15.30 WIB. Dari WM diperoleh barang bukti berupa satu senjata api rakitan merek Browning, magazen, 200 butir peluru caliber 38mm special, 80 butir peluru 9mm, uang tunai, pisau, kamera, dan telepon genggam.


5. Kota Bandung


Lokasi : Rumah kos di Jalan Arum Sari, VII No. 21, RT 05 RW 12, Kelurahan Babakansari, kecamatan Kiaracondong, kota Bandung. Rumah baru ditempati kurang dari satu bulan.

Kejadian : Penggeledahan.

Waktu: Kamis, 9 Mei 2013 mulai pukul 15.45 hingga pukul 19.30.

Ditangkap : 1 orang.

Barang bukti : Senjata laras panjang M-16 berisi 20 butir, 5 butir peluru 9mm dan 15 butir 38mm special, peredam suara.


KELOMPOK ABU ROBAN


Dari penyergapan-penyergapan tersebut mengakibatkan 7 teroris tewas dan 13 lainnya ditangkap. Kelompok tersebut adalah jaringan kelompok Abu Roban yang ikut tewas dalam penyergapan di Batang, Jawa Tengah. Abu Roban alias Untung alias Bambang Nangka merupakan kader gerakan NII (Negara Islam Indonesia). Kelompok Abu Roban jaringan yang terhubung dengan kelompok Abu Umar yang telah tertangkap dan kelompok Santoso. Kelompok Santoso merupakan kelompok teroris yang pusat gerakannya di daerah hutan gunung Poso dengan menamakan dirinya kelompok “Mujahidin Indonesia Timur”. Sampai saat ini Santoso alias Abu Wardah belum dapat tertangkap dan kemungkinan masih terus melakukan perekrutan anggota. Santoso juga dikenal sebagai instruktur dalam kamp pelatihan-pelatihan paramiliter teroris. Santoso sendiri pernah terlibat perampokan Bank BCA Palu pada 25 Mei 2011 disertai penembakan tiga anggota polisi penjaga.


Kelompok Abu Roban merupakan kelompok yang berperan untuk mengumpulkan uang atau harta sebagai pendukung kegiatan terorisme jaringan kelompoknya yang dianggapnya sebagai kegiatan jihad. Untuk mengumpulkan dana itu segala cara dapat dilakukan, kelompok ini spesialis melakukan perampokan (fa’i) yang bertujuan untuk mengumpulkan dana untuk menyupali kegiatan-kegiatan pelatihan dan aksi terorisme. Sasaran utamanya adalah toko emas dan Bank atau nasabah Bank. Perampokan dihalalkan bagi gerakan kelompok ini karena dianggap sebagai harta rampasan perang yang diperoleh dari orang atau kelompok yang dianggapnya kafir. Dari hasil perampokan-perampokan tersebut diperkirakan kelompok ini berhasil mendapatkan 1,8 Miliar. Merupakan jumlah yang cukup besar untuk dapat menyokong kegiatan pelatihan paramiliter dan membiayai aksi-aksi teroris jaringannya.


Perampokan yang pernah dilakukan kelompk Abu Roban diantaranya perampokan kantor BRI di Batang ( Rp. 790 juta), BRI Grobokan (Rp. 630 juta), BRI Lampung (Rp. 466 juta) dan Kantor Pos Cibaduyut, Bandung (Rp. 86 juta). Bank BRI dijadikan target perampokan karena bank ini merupakan milik pemerintah yang dianggapnya thogut. Selain bank pemerintah sasarannya adalah bank asing atau toko emas yang pemiliknya bukan orang muslim. Perampokan toko emas “Terus Jaya” di Tambora, Jakarta Barat pada pukul 10.00 pelaku berhasil membawa lari 1,5 kg emas senilai Rp. 500 juta juga terkait dengan jaringan kelompok Abu Roban dan kelompok Abu Umar. 


Kelompok Abu Roban juga terkait dengan kelompok Thoriq yang jaringannya terungkap pada saat ledakan di Beji, Depok dan Tambora, Jakarta. Abu Roban bukan pemain baru, meskipun baru tertangkap. Beberapa kasus terorisme yang terungkap baru-baru ini, seperti jaringan Kelompok Thoriq baik yang di Depok maupun di Solo dan kelompok Farhan yang ada di Solo diduga kuat mendapatkan dana dari kelompok Abu Roban. Selain itu kelompok Abu Roban diduga kuat sebagai penyandang dana untuk kegiatan-kegiatan aksi teror di Solo, Depok, Jakarta, Sulawesi Tengah, Bima dan Poso. Ada keterkaitan jaringan antara kelompok Abu Roban dengan kelompok Abu Umar yang merupakan pemasok senjata dari Filipina. Keterkaitan perampokan di Tambora juga menunjukkan adanya hubungan dengan kelompok Medan dan Aceh, yang juga melakukan aksi-aksi perampokan, diantaranya perampokan bank CIMB Niaga, jalan Aksara, Medan pada 2010 dan penyerbuan Mapolsek Hamparan Perak. Dalam aksi perampokan itu teroris menembak mati Briptu Imanuel Simanjuntak anggota Brimob Polda Sumatra Utara serta dua Satpam bank. Perampokan dimaksudkan untuk membiayai pelatihan paramiliter teroris di Jalin Jantho, Aceh Besar.


ANALISIS


Pada saat ini perampokan (fa’i) masih merupakan andalan bagi kelompok-kelompok teroris untuk mendapatkan dana guna membiayai kegiatan-kegiatan terorisme mulai dari perekrutan, pelatihan paramiliter hingga aksi-aksinya. Meskipun cara ini konvensional dan sudah dilakukan sejak lama, bahkan masa pemberontakan DI/ TII, tetapi nampaknya tidak banyak pilihan yang dapat dilakukan untuk memperoleh dana. Kelompok teroris semakin terdesak dengan pengejaran oleh aparat dan kesulitan dana karena ketatnya pengawasan transaksi keuangan terkait terorisme. Kondisi ini juga mempersulit kelompok teroris mendapatkan dana dari luar negeri. Perampokan merupakan pilihan yang harus diambil meskipun resikonya sangat besar. Sumber dana lain yang dapat diperoleh yaitu dengan sumbangan, bantuan atau donator simpatisan dan iuran anggota meskipun jumlahnya relatif kecil. Ada pengembangan tehnik baru jaringan terorisme untuk mendapatkan dana yang jumlahnya besar, yaitu melalui hacking (cybercrime). Dengan memanfaatkan tehnologi IT yang dipelajarinya maka ada jaringan teroris yang spesialis dalam melakukan hacking. Tugasnya adalah meretas situs-situs jual beli on line sehingga dapat menstranfer uang miliaran rupiah. 


Maraknya perampokan terhadap toko emas, bank dan nasabah bank di berbagai daerah; Sragen, Solo, Boyolali, Klaten, Purworejo dll. yang hingga saat ini belum terpecahkan kasusnya diyakini terkait dengan aksi kelompok teroris ini. Korelasinya dapat dilihat dari kesamaan modus operandinya, yaitu waktu dilakukan pada siang hari, menggunakan senjata api, kesamaan target dan waktu kejadian berdekatan.


Oleh karena itu untuk mencegah aksi terulang kembali, perlu adanya pencegahan dengan peningkatan keamanan atau penjagaan aparat pada obyek-obyek vital tersebut, memutus mata rantai jaringan dengan memecahkan kasus perampokan dan menyadarkan masyarakat dalam menjaga keamanan diri pribadi. Penting juga aparat melakukan sweeping terhadap senjata tajam atau senjata api, karena dengan maraknya perampokan yang menggunakan senjata api menunjukkan bahwa banyaknya peredaran senjata api di masyarakat.



 (Fajar Purwawidada, MH., M.Sc.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar