Rabu, 04 Desember 2013

KELOMPOK TERORIS ABU IBRAHIM




Abu Ibrahim alias Yoyok merupakan pemimpin kelompok teroris yang berikrar melakukan pembalasan pada polisi yang dianggapnya sebagai thogut atau kafir.  Kelompok ini kecil dan mampu merakit bom berkekuatan besar. Mereka bagian dari jaringan besar kelompok Mujahidin Indonesia Barat (MIB) yang pernah dipimpin oleh Abu Roban. Kelompok ini pula yang diduga kuat di belakang aksi penembakan polisi di Tangerang dan Jakarta. 


Abu Ibrahim terlibat dalam kasus penyerangan anggota polisi d Setu, Kabupaten Bekasi dan Jonggol, Kabupaten Bogor pada 2012, serta terlibat perakitan bom yang meledak di Beji, Depok, Jawa Barat. Dia sudah belanja bahan peledak kelas berat dan mengumpulkan bahan-bahan pembuat bom, diantaranya; nitrogliserin, asam nitrat, sulfur, dan alumunium foil. Selain itu juga sudah menyiapkan siapa yang akan menjadi target pengebomannya. Targetnya adalah yang dianggapnya thogut khususnya Kepala dan Wakil Kepala Densus 88 Anti Teror Polri. 


Abu Ibrahim menggantikan pimpinan kelompok sebelumnya yang sudah tertangkap yaitu Ahmad Sofian. Ibrahim mendapatkan senjata dari Ahmad dengan membayar Rp. 6.000.000,-. Ibrahim mengorganisir kelompoknya untuk menimbulkan kebencian terhadap polisi. Dia kemudian memimpin penyerangan dua anggota Sabraha Polsek Setu, Brigadir Jaka Setiawan dan Brigadir Erry Sasongko di Setu, Kabupaten Bekasi pada Minggu 25 Maret 2012 dini hari.


Selain memiliki kemampuan mencuci otak anggotanya, teroris Abu Ibrahim juga memiliki kemampuan merakit bom yang diperolehnya secara otodidak. Selain itu dia yang merupakan lulusan STM juga meiliki keahlian membuat alat antisadap dan alat untuk mengacau sinyal (jammer). Dibuatnya alat-alat tersebut dari barang-barang elektronik bekas. Bahan-bahan peledak yang dimilikinya ditemukan pada saat penyergapan yang menewaskan Dedek di Tangerang.


PENYELESAIAN KASUS


Abu Ibrahim berhasil ditangkap pada Kamis 26 November 2013 di Klender, Jakarta Timur setelah menjadi buron selama dua tahun. Dia menyamarkan jejaknya sebagai sopir pribadi bos sebuah perusahaan di Jakarta Timur. Pada saat penyergapan tersebut berhasil diamankan satu pucuk snjata jenis FN dan 22 butir amunisi caliber 9 mm.


ANALISIS


Melihat keterlibatan kelompok Abu Ibrahim dengan kasus penembakan polisi dan ledakan bom di Beji, Depok, Jawa Barat maka kelompok ini terkait dengan jaringan kelompok Thoriq yang dipimpin Chumaidi yang selain di Depok juga sebagian besar jaringan kelompoknya berada di Solo. Kelompok Thoriq ini memiliki tokoh senior seperti Chumaidi dan Joko Parkit yang merupakan sisa jaringan kelompok Noordin M. Top. Mereka banyak mendapatkan didikan terorisme merakit bom dan kegiatan paramiliter dari kelompok Noordin M. Top. Setelah jaringan Noordin M. Top terbongkar dan Noordin M. Top tertembak mati pada saat penyergapan di Mojosongo, Solo kelompok Thoriq ini bercita-cita untuk melanjutkan perjuangan dan organisasi Noordin M. Top sebagai “Al Qaeda Asia Tenggara”. Sedangkan modus operandi penembakan dan aksi perampokan menunjukkan hubungannya juga dengan kelompok Abu Roban dan kelompok Santoso di Poso. Santoso merupakan anggota jaringan Abu Tholud dan teroris yang sering sebagai instrukur dalam pelatihan-pelatihan paramiliter anggota teroris baru. Santoso terlibat dalam pelatihan kelompok Farhan di Gunung Merbabu Jawa Tengah dengan doktrin-doktrin kebencian dan serangan terhadap target polisi. Jadi kelompok-kelompok baru ini merupakan transformasi dari jaringan kelompok-kelompok lama teroris.

(Fajar Purwawidada, MH., M.Sc.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar