Kamis, 20 Februari 2014

INTISARI PENELITIAN JARINGAN TERORIS SOLO



JIHAD MORO

ABSTRACT

Terrorism committed by force and violence in the name of God in the name of religion continues to happen in Indonesia. One of them as a terrorist network Solo. This study aims to identify and understand the development of this tissue from forming, and its management implications.

Issues raised in this study is how the formation of terrorist networks Solo, the cause of terrorism, characteristics and implications for regional security and mitigation strategies. This research is a descriptive qualitative social. Source of data used include primary data and secondary data. The technique of collecting data using interviews, observations, and supported the study documentation. Qualitative data analysis is done with the data reduction, data display and conclusion. The study was conducted in Solo.

Based on the results of this study showed that the formation of a network of Solo terrorism can not be separated from the influence of the Darul Islam that mutated into a radical Islamic groups and terrorist groups continue to be new. The main cause is a political motive wrapped in religion and other factors supported. Characteristics of the new network in the Solo group is still an amateur compared to the old group, although with the same ideology. While acts of terrorism in Solo implications on the security of the region especially the ideological, political, economic, social and human security. Combating terrorism in Solo has managed to capture and dismantle terrorist networks Solo new, but there are still many weaknesses that need to be repaired. Effective counter-terrorism strategy conducted in Solo is through law enforcement, prevention, de-radicalization and disengagement, which must be programmed properly and is a shared responsibility.


Keywords: Networks, Terrorism, Security, Strategy, Counter-terrorism.


INTISARI

Terorisme yang dilakukan dengan kekerasan atas nama Tuhan dan kekerasan atas nama agama terus saja terjadi di Indonesia. Salah satunya seperti pada jaringan teroris Solo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami perkembangan jaringan ini mulai dari pembentukan, implikasi dan penanggulangannya.

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pembentukan jaringan teroris Solo, penyebab terorisme, karakteristik dan implikasinya terhadap keamanan wilayah serta strategi penanggulangannya. Penelitian ini merupakan penelitian sosial yang bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data yang dipergunakan meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, serta didukung studi dokumentasi. Analisis data kualitatif dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian dilakukan di wilayah Solo.
Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa pembentukan jaringan terorisme Solo tidak terlepas dari adanya pengaruh Darul Islam yang bermutasi menjadi kelompok-kelompok Islam radikal dan berlanjut menjadi kelompok teroris baru. Penyebab utamanya adalah motif politik yang dibungkus agama dan didukung faktor lain. Karakteristik dari jaringan kelompok baru di Solo masih bersifat amatir dibandingkan kelompok yang lama, meskipun dengan ideologi yang sama. Sedangkan aksi-aksi terorisme di Solo berimplikasi terhadap keamanan wilayah terutama terhadap ideologi, politik, ekonomi, sosial dan keamanan manusia. Penanggulangan terorisme di wilayah Solo telah berhasil menangkap dan membongkar jaringan baru terorisme Solo, tetapi masih banyak kelemahan yang perlu diperbaiki. Strategi penanggulangan terorisme yang efektif dilakukan di wilayah Solo adalah melalui penegakan hukum, pencegahan, deradikalisasi dan disengagement yang harus terprogram dengan baik dan merupakan tanggung jawab bersama.


                             Kata Kunci: Jaringan, Teroris, Keamanan, Strategi, Penanggulangan.

Top of Form

 ( Fajar Purwawidada, MH., M.Sc. )



Sabtu, 08 Februari 2014

KELOMPOK TERORIS MUJAHIDIN INDONESIA TIMUR

SANTOSO alias ABU WARDAH pimpinan MUJAHIDIN INDONESIA TIMUR

Kelompok MIT (Mujahidin Indonesia Timur) dipimpin oleh Santoso alias Abu Wardah. Santoso asli orang Jawa, tetapi saat ini gerakan MTI berada di kawasan hutan gunung Tamanjeka, Poso. Ia merupakan generasi dari jaringan kelompok lama dari sel Abu Umar dan Noordin M. Top. Peranannya dalam jaring kelompok teroris adalah sebagai pemimpin dan instruktur dalam pelatihan paramiliter di beberapa daerah, termasuk pelatihan kelompok Farhan di jalur pendakian Gunung Merbabu Jawa Tengah. Saat ini MIT merupakan sentral dari gerakan jaringan kelompok teroris di Indonesia. Hampir semua gerakan teroris merupakan jaringan pendukung MIT. Selain di Poso jaringan MIT tersebar di Jawa, Sumatera dan NTB, sehingga menjadikan MIT sebagai pengganti pemegang kendali perjuangan yang sebelumnya didominasi jaringan Solo.
Poso dijadikan sebagai pusat gerakan MIT berawal dari adanya konflik Poso antara kelompok Muslim dengan Nasrani. Pembantaian kelompok Muslim oleh Nasrani mengakibatkan bangkitnya rasa solidaritas Muslim di daerah lain untuk membantu saudara-saudaranya di Poso. Maka kemudian banyak  berdatangan Mujahidin dari berbagai daerah terutama yang sebagian besar dari Jawa untuk berjihad melawan Nasrani. Sejarah konflik tersebut menjadikan Poso sebagai tempat strategis bagi para teroris untuk mengembangkan jaringannya. Perkembangan teroris di kota Poso sangat besar karena didukung oleh berbagai macam komponen sehingga jaringan teroris di Poso ini semakin lama semakin kuat. Poso di jadikan pusat gerakan karena memiliki medan yang sangat mendukung untuk dijadikan tempat pelatihan. Banyak wilayah pegunungan, lembah dan hutan yang strategis untuk latihan dan persembunyian. Poso dijadikan sebagai “tanah suci” atau “tanah jihad” bagi kelompok teroris. Anggota teroris belum dikatakan berjihad kalau belum menginjakkan kakinya di tanah Poso. Keberadaan mereka di Poso dapat bertahan lama sejak dari konflik hingga kini. Pada masa konflik umat Muslim banyak dibantu oleh pejuang Muslim (Mujahidin) yang berasal dari luar untuk memerangi musuh mereka (Nasrani). Kemudian  pejuang Muslim yang berasal dari wilayah luar Poso tersebut dianggap sebagai pahlawan oleh para kelompok Muslim di Poso. Hal itu yang dimanfaatkan oleh para teroris untuk menjadikan Poso sebagai “tanah suci” atau tanah idaman mereka dalam melakukan doktrin jihad. Selain itu di Poso masih banyak senior-senior jihadis yang dianggap memiliki pengalaman-pengalaman, seperti merakit bom dan membuat senjata.

Poso juga sempat dijadikan incaran kelompok JI (Jamaah Islamiyah) pimpinan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir. Kelompok militan yang didirikan di Johor Bahru, Malaysia tersebut pernah mendirikan cabang di wilayah ini. Cabang JI di maksudkan untuk dapat membangun pusat latihan tempur, meski akhirnya niat itu tidak terwujud sempurna. Banyak kader-kader utama kelompok JI, seperti Ali Ghufron, Imam Samudra, Dr. Azahari, Noordin M. Top, Amrozi dan generasi di bawahnya terlibat serangkaian bom di Indonesia. JI membentuk Mantiqi Tsalis III yang terdiri dari wilayah; Sabah, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah dan Mindanao. Ketua pertama Mantiqi III adalah Mustafa. Mantiqi III terdiri tiga wakalah; Wakalah Badar meliputi; Sabah, Labuan, dan Tarakan. Kemudian Walakah Uhud meliputi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Wakalah ketiga adalah Wakalah Hudaybiyah di Mindanao sebagai basis latihan perang. Tetapi saat ini generasi yang baru jauh berbeda, lebih muda dan jaringan luas meskipun tersebar dalam kelompok-kelompok kecil. 

Konflik komunal Poso yang merenggut korban ribuan jiwa semakin membuat wilayah ini jadi basis utama para jihadis Indonesia setelah kerusuhan Maluku Utara dan Ambon mereda. Jauh setelah  konflik Poso di damaikan, sisa-sisa kelompok militan masih bertahan dan membuat basis-basis baru. Meskipun aparat sudah berulang kali memburu dan menangkap mereka, tetapi tetap saja kelompok-kelompok militan itu hidup dan berkembang, meskipun dalam kelompok-kelompok kecil. Tulang punggung kelompok ini tetap pemuda-pemuda berasal dari Jawa yang beberapa tahun lalu terlibat dalam konflik Poso. Keberadaan mereka seolah terjaga, karena sebagian warga setempat menerima mereka.

Kelompok MTI sering menjadikan polisi khususnya Densus 88 sebagai target serangan. Mereka mengobarkan perang melawan Densus 88 Antiteror sebagai balasan terhadap ikhwan-ikhwan mereka yang telah dizolimi Densus 88 dengan menangkap, menyiksa dan menembak mati. Densus 88 juga dianggap sebagai penghalang utama bagi gerakannya. Pernyataan tersebut juga diungkapkan melalui video yang diunggah di youtobe berjudul “Seruan01”. Video tersebut diunggah melalui akun Al Himmah pada 7 Juli 2013. Tampilan awal video bertuliskan judul “Risalah kepada umat Islam di Kota Poso”, dengan nama dibawahnya Syaikh Abu Wardah Santoso dan bertuliskan kelompok Mujahidin Indonesia Timur. Isi dari video adalah untuk memotivasi para Mujahidin di seluruh Indonesia, khususnya di Poso untuk terus berjuang dan berjihad melawan Densus 88. Santoso menyatakan :

“Antum (kalian) tidak perlu ragu ketika menghadapi Densus 88. Antum harus semangat... Antum telah merasakan bagaimana jahatnya Densus 88 kepada umatnya. Antum tahu Densus 88 membantai saudara-saudara kita di Sulawesi”. 

Memunculkan diri di hadapan publik melalui internet memang sering dilakukan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur. Santoso ingin menunjukkan bahwa dalam melakukan aksi  teror dirinya tidak sendirian. Motivasinya adalah meminta bantuan teman-teman yang lain di berbagai tempat. Kemarahan mereka terhadap Densus 88 didasari peristiwa tewasnya Nudin teroris di Poso pada 10 Juli 2013.

Kasus terbaru adalah terjadi baku tembak antara pasukan Brimob Polda Sulawesi Tengah dan anggota kelompok MTI di hutan pegunungan Taunca, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Poso pada Kamis 6 Februari 2014. Dalam peristiwa tersebut satu anggota Brimob, Bharada I Putu Satria Wibawa tewas saat pasukan berusaha menyergap kelompok bersenjata pimpinan Santoso di sebuah pondok papan kayu. Selain itu dua  orang anggota teroris juga tewas, dan dua orang ditangkap dalam keadaan luka-luka. Sedangkan sisa komplotan berhasil melarikan diri ke wilayah pegunungan yang lebih tinggi lagi. Lokasi pertempuran berjarak sekitar 50 kilometer dari kota Poso. Sejumlah bahan peledak, bom lontong, peluru dan perbekalan berhasil diamanankan. 

Kasus serupa juga pernah terjadi pada pertengahan Oktober 2012, yaitu dua polisi dibunuh kelompok teroris di Dusun Tamanjeka, Poso dan pada Desember 2012 empat anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah tewas ditembak kelompok yang sama saat patroli pengejaran.

Hingga saat ini polisi belum berhasil menangkap Santoso. Ia sering terkait dan disebut dalam setiap penangkapan teroris di Indonesia, baik di Poso,  Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Di Poso Santoso memimpin pelatihan dan operasional teror. Salah satu keterlibatannya adalah pada kasus penembakan tiga anggota polisi di bank BCA, Palu pada 25 Mei 2011. Pada bulan Januari 2014 beberapa anggota MTI telah berusaha menyusup di Jawa TImur dan mencoba melakukan aksi terorisme di beberapa daerah diantaranya di Tulungagung dan Surabaya.

Gerakan MTI ini mendapatkan dukungan dari kelompok teroris lain yang terhubung dalam jaringannya. Seperti kelompok Abu Roban (Mujahidin Indonesia Barat / MIB) merupakan sel yang berperan untuk mendapatkan dana/kekayaan melalui perampokan (fa’i) di berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Hasil dari perampokan tersebut sebagian dibelikan persenjataan dan dikirimkan ke Poso untuk mendukung aksi dan pelatihan terorisme. Hasil dari perampokan mencapai Rp. 1,8 Miliyar, yang dirampasnya dari beberapa bank dan toko emas.

A N A L I S I S

Kelompok Mujahidin Indonesia Timur saat ini merupakan sentral dari pergerakan terorisme di Indonesia. Hampir semua aksi dan kelompok terorisme terhubung dengan MTI / Poso. Tokoh Santoso alias Abu Wadah menjadi penting sebagai penerus ideology jihadis dari pendahulunya. Jaringan MTI saat ini telah menggeser peranan sentral jaringan Solo yang dahulu memegang peranan sentral dalam jaringan terorisme Indonesia. Pergeseran Solo ke Poso merupakan pengaruh faktor keamanan. Solo dianggap sudah tidak strategis lagi karena menjadi target operasi antiterorisme dan sulitnya mencari daerah pelatihan dan persembunyian. Tetapi hubungan Solo-Poso tetap terjalin kuat dalam tataran ideology.

Teroris saat ini sudah menggunakan IT dalam melakukan aksi-aksinya. Mereka sudah mulai sadar untuk menggunakan kecanggihan tehnik informatika untuk memperluas jaringannya. Terorisme bukan hanya bergerak secara konfensional seperti meledakkan bom, penembakan, dan perampokan, tetapi aksi terorisme yang mereka lakukan dapat melalui jaringan internet (cybercrime). Contoh penggunaan jaringan tehnologi internet adalah dengan menggunakan hubungan email bersama anggota kelompok. Passwordnya email diketahui oleh setiap anggota. Pesan hanya ditinggalkan di spam dan tidak pernah dikirim sehingga terhindar dari pantauan aparat. Penggunaan jejaring Chatting, Facebook, twitter, blog, website dan mengunggah di youtobe sebagai upaya untuk menggalang dukungan, rekrutmen dan propaganda. Mereka juga menggunakan Hecking dengan meretas penjualan online untuk mentransfer uang milyaran rupiah ke rekening mereka secara illegal.

R E K O M E N D A S  I

1. Upaya penangkapan terhadap Santoso alias Abu Wardah adalah prioritas untuk menghentikan pengembangan jaringan teroris Poso. Meskipun penangkapan atau pembunuhan terhadap Santoso belum tentu dan kemungkinan besar tidak dapat menghentikan terorisme di Indonesia. Tetapi paling tidak “Memotong ranting akan dapat sedikit menghambat pertumbuhan rindangnya pohon”.

2. BNPT dan aparat harus segera menguasai tehnologi informatika dan pengamanan jaringannya sehingga dapat mencegah aksi-aksi terorisme melakukan cybercrime dan pemanfaatannya untuk kepentingan perluasan jaringannya.

3. Aparat melakukan pencegahan, pengamanan dan penuntasan kasus perampokan untuk mencegah teroris mendapatkan dana besar utuk membiayai aksi dan pelatihan terorismenya.

4. Memperketat pengawasan terhadap masuknya bahan peledak dan senjata api illegal ke Sulawesi, khususnya ke daerah Poso.

5.  Melakukan pembinaan, penyuluhan dan sosialisasi terhadap warga Poso, agar tidak mendukung atau berhasil direkrut gerakan teroris.



( Fajar Purwawidada, MH., M.Sc. )





Sabtu, 01 Februari 2014

KASUS TERORISME DI INDONESIA


BOM HOTEL JW MARRIOTT


Aksi terorisme di Indonesia terus saja terjadi hingga saat ini. Korban jiwa dan material sudah demikian besar dan nampaknya ini akan terus terjadi di masa yang akan datang. Aksi-aksi terorisme di Indonesia yang paling menonjol adalah sebagai berikut:


1981

·   Teroris menyamar sebagai penumpang dan membajak pesawat DC-9 Woyla milik maskapai Garuda Indonesia pada 28 Maret 2081. Teroris bersenjata senapan mesin, granat dan mengaku sebagai Komando Jihad.


2000

·  Bom meledak di lantai parker P2 gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), pada 13 September 2000. Sebanyak 10 orang tewas, 90 lainnya luka-luka dan 104 mobil rusak berat.

·  Serangkaian ledakan pada malan Natal, 24 Desember 2000 di beberapa kota Indonesia. Sebanyak 16 orang tewas.


2001

·      Bom meledak di Gereja Santa Anna dan HKBP kawasan Kalimalang, Jakarta Timur pada 22 Juli 2001. Korban 5 orang tewas.

·      Bom meledak di Plaza Atrium, Senen, Jakarta pada  23 September 2001. Korban 6 orang luka-luka.


2002

·     Dua ledakan bom terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali.  Secara bersamaan bom juga meledak di Konsulat Amerika Serikat. Aksi tersebut kemudian dikenal sebagai Bom Bali I yang menewaskan 202 orang dan melukai ratusan orang lainnya. Korban sebagian besar warga negara asing.


2003

·    Ledakan dahsyat mengguncang hotel JW Marriott Jakarta pada 5 Agustus 2003. Sebanyak 11 orang tewas dan 152 lainnya luka-luka.


2004

·   Ledakan bom yang disimpan di dalam sebuah mobil box menghancurkan sebagian kantor Kedubes Australia di Jakarta pada 9 September 2004. Korban 5 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.


2005

·     Bom meledak di pasar Tentena, Poso, Sulawesi Tengah pada 28 Mei 2005. Aksi tersebut menewaskan sedikitnya 20 orang.

·      Bom kembali meledak di Bali pada 5 Oktober 2005. Terjadi di kawasan Kuta dan Jimbaran yang mengakibatkan korban 22 orang tewas. Aksi tersebut kemudian dikenal dengan Bom Bali II.


2009

·     Dua ledakan bom mengguncang hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta pada 17 Juli 2009. Ledakan menewaskan 9 orang dan melukai lebih dari 50 orang. Dikenal sebagai Bom Mega Kuningan 2009.


2010

·   Terjadi sejumlah penembakan warga sipil di Aceh. Jaringan teroris pimpinan Abu Tholud melakukan pelatihan militer di pegunungan Janto Aceh Besar.

·  Terjadi perampokan bank CIMB Niaga Medan pada September 2010, pelaku adalah kelompok jaringan Medan.


2011

·  Ledakan bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon pada 11 April 2011. Bom menewaskan M. Syarif pelaku bom bunuh diri dan melukai 25 orang lainnya termasuk Kapolresta Cirebon.

·  Bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah menewaskan pelaku Ahmad Hayat  dan melukai 22 orang lainnya.


2012

·    Pelemparan granat  dan penembakan terjadi di sejumlah pos polisi pengamanan Lebaran di solo pada 17, 19 dan 30 September 2012. Korban 1 polisi tewas dan dua polisi luka-luka. Pelaku teror adalah kelompok Farhan.

Pada 31 September 2012 malam penyergapan dilakukan di Jalan Veteran menewaskan teroris Muchsin dan Farhan. Dalam penyergapan itu satu anggota Densus 88 Polri tewas.

·   Tiga anggota Brimob Polda Sulteng ditembak kelompok  bersenjata di kawasan Tambarana, Poso pada 20 Desember 2012. Sebelumnya pada Oktober 2012 dua anggota Polres Poso ditemukan tewas dibunuh di hutan Tamanjeka, Poso.


2013

·     Polisi melakukan serangkaian penangkapan teroris, mulai dari Jakarta, Depok, Bandung, Kendal dan Kebumen. Kelompok yang berhasil dibongkar jaringannya adalah kelompok Thoriq, Farhan, Hasmi, Abu Roban (Mujahidin Indonesia Barat) serta sejumlah perampokan bank dan toko emas di berbagai tempat di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah yang terkait juga kelompok Santoso (Mujahidin Indonesia Timur) di Poso. Sejumlah teroris tewas dan berhasil ditahan.

·  Polisi berhasil menembak mati 7 teroris dan menangkap13 teroris lainnya dalam penyergapan di Jakarta, Bandung, Kendal dan Kebumen yang berlangsung selama dua hari tanggal 8-9 Mei 2013.

·    Polisi melakukan penyergapan yang menewaskan 6 teroris kelompok Dayat di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten pada 31 Desember 2013.



A N A L I S I S


Berdasarkan data aksi terorisme di Indonesia, setelah pasca reformasi mulai tahun 2000 aksi terorisme marak di Indonesia. Hampir tiap tahun terjadi serangan teroris. Hal ini disebabkan karena pergantian kekuasaan Orde Baru yang begitu keras menekan gerakan-gerakan radikal baik kiri maupun kanan dengan kebijakan undang-undang suversibnya. Tindakan keras dan pencegahan yang dilakukan terbukti efektif untuk menghentikan aksi terorisme, sehingga pada Era Orde Baru hampir tidak ada kasus terorisme. 

Tetapi setelah berganti Era Reformasi, penguasa dan politik menjadi gila kebebasan yang dianggap sebagai zaman demokrasi. Hiporia kebebasan ini akhirnya melemahkan kewaspadaan dan tindakan terhadap gerakan radikalisme, bahkan dengan emosional dicabutnya undang-undang suversib. Kebijakan emosional ini akhirnya mengakibatkan geraka-gerakan radikal, khususnya kanan (Islam) yang selama Orde Lama tiarap beramai-ramai muncul di permukaan dan berbiak seperti jamur di musim hujan. Mulai gerakan separatis di Aceh (GAM) hingga terbentuknya laskar-laskar Islam yang merupakan organisasi massa Islam radikal. Kebangkitan gerakan Islam radikal ini pastinya menghidupkan ideology lama mereka yang telah terpendam dengan satu tujuan tegaknya syari’at Islam dalam bentuk Negara Islam Indonesia. Peristiwa inilah yang kemudian menjadikan Indonesia menjadi hujan bom oleh aksi-aksi teroris gerakan Islam radikal (politik Islam).

Bila disimak, aksi teroris dari awal tahun 2000 sampai 1999 yang dijadikan target adalah sasaran presentasi asing; hotel asing, pub  / cafĂ©, Keduataan Besar, Konsulat Jendral, bank dan tempat pariwisata yang banyak dihuni orang asing khususnya warga Amerika dan sekutunya. Hal ini dikarenakan fatwa dari Osama bin Laden pimpinan Al Qaeda yang menyerukan untuk menyerang, membunuh warga Amerika / sekutu baik sipil maupun militer dimanapun berada. Fatwa itu muncul karena perkembangan situasi global di Timur Tengah yang dianggapnya sebagai tindakan anti-kemanusiaan Amerika terhadap warga negara Islam di Jazera Arab.

Tetapi pada tahun 2010 hingga kini, orientasi target mereka berubah. Yaitu sasaran mengarah pada aparat pemerintah (polisi) dan issue kristenisasi atau agama tertentu (Budha). Pergeseran target ini disebabkan karena perkembangan situasi Lokal (dalam negeri). Polisi dijadikan sasaran karena dianggap thogut karena bagian dari pemerintah yang bukan berdasarkan hukum Allah, tetapi berdasarkan hukum buatan manusia. Polisi juga dianggap sebagai penghalang bagi gerakan dan aksinya untuk mencapai tujuan. Selain itu alasan lain bahwa polisi telah banyak berbuat dzolim kepada ikhwan-ihwan mereka dengan menangkap, menyiksa, dan menembak mati. Sehingga aksi penyerangan terhadap polisi dianggapnya sebagai aksi balas dendam.

Issue kristenisasi sudah lama ada, tetapi benturan yang paling besar adalah pada konflik di Poso, Ambon dan Maluku Utara. Aksi terorisme terhadap target Nasrani karena dianggap sebagai balasan terhadap kesadisan dan pembantaian umat Muslim di daerah konflik tersebut oleh kelompok Nasrani. Penyebab lain karena adanya issue “Laskar Kristus” yang dianggap mereka sebagai pasukan tandingan yang sengaja diciptakan Gereja untuk melawan Laskar Islam. Padahal Laskar Kristus hanyalah bahasa dakwah untuk memerangi hawa nafsu.

Target komunitas Budha belakangan ini terkai dengan pembantaian umat Muslim Rohiyang di Myanmar. Serangan terhadap vihara merupan aksi balas dendam dan simpati terhada saudara-saudara Muslim.

Mulai 2010, setelah Noordin M. Top ditembak mati di Solo, banyak bermunculan kelompok-kelompok teroris baru sebagai regenerasi dari jaringan Noordi M. Top. Kelompok Noordin M. Top terpecah dalam kelompok kecil-kecil dengan jumlah anggota yang tidak banyak. Kelompok yang lebih kecil akan lebih sulit diakses oleh aparat. Tetapi kelemahannya kelompok baru ini anggotanya masih pemula sehingga dapat dikatakan premature kurang pengalaman dibandingkan senior-senior mereka pada jaringan lama. Anggota kelompok baru hanya mendapatkan pelatihan lokal dengan seadanya dan waktu yang singkat karena tekanan aparat dan minimnya dana. Sedangkan jaringan lama mendapatkan pelatihan memadai di berbagai tempat latihan paramiliter baik di Afganistan dan Moro, Filipina dengan pratek tempur, perlengkapan persenjataan dan pendidikan yang memadai.

Oleh karena itu diharapkan pemerintah dalam hal ini BNPT terus berupaya dan aktif untuk mengembangkan penanggulangan dengan mengedepankan pencegahan (prefentive) sehingga aksi-aksi teroris tahunan dapat dihentikan. Program-program seperti deradikalisasi dan disengagement harus diaplikasikan hingga pada tataran bawah di daerah untuk menekan pengembangan ideology dan aksi terorisme.



(Fajar Purwawidada, MH., M.Sc.)