Sabtu, 22 Februari 2014

SIARAN TV INDONESIA HANCURKAN BANGSA



Sebuah Testimoni. Pagi ini saya sangat gundah, sedih dan kecewa, bahkan sejak berbulan-bulan lalu dan beberapa tahun lalu. Pasalnya saya sudah tidak nafsu lagi menonton TV Indonesia. Kenapa? 

Acara TV Indonesia kini telah jauh dari tujuan penyiaran itu sendiri. Siaran harusnya lebih utama untuk menyebarkan Informasi, pendidikan, pengembangan kebudayaan serta pembelajaran etika, moral dan susila agama. Tetapi saat ini hampir di semua stasiun TV tayangannya 90% murni hiburan. Hiburan yang hanya berupa banyolan tidak jelas arah manfaatnya dan arah tujuannya. Hiburan TV yang hanya menampilkan badut-badut bodoh, tidak rasional dan materialistik. Hiburan yang terus menerus dan monoton akan membuat candu, seperti candu pada narkoba. Pemirsa dibuat terus berfantasi dan berhalusinasi sehingga dia jauh berada dari kehidupan realita yang harus berjuang, bekerja dan bersungguh-sungguh dalam berkehidupan sosial masyarakat, berbangsa dan bernegara. Masyarakat tidak disuguhkan acara-acara yang cerdas, pembelajaran intelektualitas, budaya bangsa, etika, norma dan susila agama. 

TV memang merupakan media elektronik yang sangat efektif dan paling banyak digunakan masyarakat untuk mendapatkan informasi. Media TV dapat diakses melalui dua indera, yaitu secara visual dan pendengaran mengakibatkan memiliki kelebihan daya tangkap bagi pemirsa. Sayangnya informasi yang ada di televisi sebagian besar adalah mentah, tendensius dan bahkan sampah. Berita dibuat dan disiarkan tidak netral, bermuatan politik, melebih-lebihkan dan bahkan bisa menyesatkan. Kebebasan pers dijadikan senjata untuk melegalisasi semua perbuatan penyiaran tersebut. Stasiun TV hanya sebuah alat kepentingan pemilik modal. Sedangkan masyarakat sebenarnya adalah aset korban bagi produk dan tujuan politiknya.

Acara hiburan TV telah mencekokin masyarakat dengan pornografi, aksi seronok, aib pribadi, gunjingan,  konflik, kekerasan dan kasus-kasus kriminal artis dan pejabat-pejabat negara.selama 24 jam setiap hari-harinya. Siaran tentang perceraian, perselingkuhan, goyang seronok, narkoba, tampilan seksi merangsang, korupsi, suap dan alam ghaib telah jauh mendominasi dari pada siaran ceramah-ceramah keagamaan, siaran daerah perbatasan, siaran penanaman Ideologi Pancasila, siaran tentang bela negara, cinta tanah air dan patriotisme. Jarang sekali ada acara pembelajaran ilmu pengetahuan untuk umum dan mata pelajaran sekolah seperti pada siaran TPI terdahulu. Acara debat di TV nyatanya hanya berjalan sebagai debat kusir yang ngotot dengan kemauan dan pembenaran sendiri jauh dari teori-teori dan logika akademis. Badut-badut bodoh tapi sok pintar itu telah putar balikkan logika sesuai keinginan isi perutnya sehingga masyarakat tambah bingung dan resah.

Paling memprihatinkan adalah acara TV untuk anak-anak. Anak-anaknya harusnya mendapatkan materi siaran yang steriil dan khusus dalam ruang lingkup kehidupan dan pembelajaran anak. Penuh pembelajaran moral, etika dan agama serta pembelajaran intelektualitas. Tetapi nyatanya hampir tidak ada stasiun TV yang cukup untuk memberikan ruang bagi anak-anak. Acara TV saat ini campur aduk tidak ada penggolongan keperuntukan pemirsa dan penyesuaian penempatan waktu tayang. Dampaknya luar biasa, anak-anak tiap hari ikut tersuguhkan siaran-siaran yang sampah, porno, seronok dan badut bodoh tadi. Bayangkan bagaimana perkembangan anak-anak kita ini. Mereka adalah usia keemasan untuk merekam setiap apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka adalah aset-aset keluarga dan bangsa ini. Seperti apa mereka nantinya?

Stasiun TV Indonesia hanya dipentingkan dan berorientasi pada infestasi modal dan berorientasi  pada keuntungan materialistik belaka. Mengorbankan moral kehidupan masyarakat dan keroposnya ideologi bangsa. Modal Asing dan pemilik modal yang berorientasi bisnis telah hancurkan semua. Pelan-pelan tapi pasti budaya kita akan jungkir balik, tidak ada orientasi dan jauh dari jati diri bangsa Indonesia. Kebebasan pengembangan seni, budaya saat ini tidak berdasar pada budaya bangsa yang santun dan sopan, tetapi pengembangan budaya yang berorientasi pada keuntungan finansial semata. Orientasinya adalah yang penting laku dijual, entah bagaimana dampaknya bagi  masyarakat itu pemikiran terakhir. Lagu-lagu pop, dandut dll. hanya mengandalkan lirik yang jorok, goyang seronok dan pakaian yang merangsang. Suara bukan modal utama lagi, yang penting adalah heboh, menggoda dan merangsang pemirsa. Tidak ada lagi budaya rasa malu bagi mereka. Seolah karya yang bisa dibuat saat ini tidak jauh-jauh dari alat kelamin. Dan memang hanya alat kelamin saja isi otak mereka saat ini. Jauh dari keagungan dan kesakralan budaya bangsa.

Acara TV juga tidak kreatif. Bisanya hanya menjiplak acara stasiun TV yang lain. Kalau ada acara stasiun TV yang menarik dan diminati banyak pemirsa, buru-buru stasiun TV yang lain membuat acara yang mirip atau serupa. Sungguh sesuatu plagiator besar, bisanya hanya ikut-ikutan. Akibatnya di semua stasiun TV acaranya hampir sama. Sungguh membosankan dan memuakkan. Ketidakcerdasan dan penjiplakan juga di lakukan terhadap acara-acara TV luar negeri yang dianggapnya bagus dan laku bila dibuat mirip di Indonesia.

Rasa Nasionalisme Bangsa saat ini sangat memprihatinkan. Masyarakat saat ini sudah jarang sekali mendapatkan pencerahan, pembinaan yang secara luas melalui acara-acara TV. Tidak ada lagi film perjuangan, tidak ada lagi pidato-pidato pimpinan yang dapat bangkitkan semangat kebangsaan, tidak ada lagi pembelajaran ideologi Pancasila. Sangat minim kalu itupun ada, bukan prioritas. Kenapa? karena tidak ada nilai komersialnya.

Banyaknya perilaku yang buruk dan amoral masyarakat dan pejabat saat ini adalah akibat lemahnya pembinaan moral, etika dan susila agama. Diperburuk lagi dengan siaran yang tidak cerdas dan sampah setiap harinya. Membuat masyarakat Indonesia sebagai masyarakat penggunjing. Masyarakat menganggap hidup ini hanya banyolan, lawakan, tidak serius dan semua perbuatan seronok, tidak sopan dan amoral itu suatu yang biasa. Bahkan dianggap sebagai budaya baru. Para pelajar, mahasiswa, pegawai, dan pejabat menganggap semua urusannya, tugas-tugas belajar, kantor, pekerjaan hanyalah banyolan, main-main dan tidak serius. Menirukan gaya acara TV yang setiap hari mereka tonton. Remaja Putri hanya berfantasi dan berhayal bisa memiliki barang yang serba mewah; pakaian, perhiasan, rumah dan mobil seperti yang mereka lihat pada gaya hidup sinetron TV. Akhirnya mereka terjebak pada pelacuran terselubung hanya untuk memenuhi fantasi mewahnya tersebut. Semua akhirnya berakhir pada pola hidup Hedonisme. Hidup yang hanya berorientasi pada kepemilikan harta benda dan konsumtif.

Membuat saya lebih resah adalah di mana sebenarnya peran negara. Negara seolah membiarkan masalah ini terus terjadi bertahun-tahun. Tidak ada perubahan kebijakan untuk mengontrol siaran TV Indonesia ini. Apa gunanya kementerian dan lembaga siaran kalau tidak bekerja ataupun mampu mengontrol arus informasi di TV. Seolah takut memberlakukan sensor dan pencekalan siaran. Sensor hanya sebuah slogan belaka. Manajemen siaran TV Indonesia sangat amburadul. Ingatlah bahwa Acara TV ditonton oleh ratusan juta masyarakat Indonesia di seluruh tanah air. Jangan sampai siaran TV menjadi alat pembusukan masyarakat dan negara dari dalam. Masyarakat, khususnya usia produktif dan anak-anak merupaka aset bangsa masa depan. Jangan hancurkan mereka dengan siaran-siaran TV yang sampah, seronok, irasional dan bodoh tersebut. Berpikirlah cerdas dan rasa Nasionalisme yang tinggi. Semua adalah untuk keberlangsungan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai.

REKOMENDASI

Dari keresahan tersebut maka rekomendasi yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Pemerintah melalui organnya harus dapat mengontrol acara TV sehingga bermanfaat bagi intelektualitas, moral, etika dan susila masyarakat serta terhindar dari tayangan seronok, pornografi, manipulasi, banyolan yang berlebihan, kekerasan, magis dan acara sampah.
2. Memberikan pembinaan bagi manajemen stasiun TV agar berpihak terhadap kepentingan pencerahan dan pembinaan masyarakat, Nasionalisme dan tidak mengutamakan orientasi keuntungan modal / finansial.
3. Memberikan pembinaan dan kesadaran bagi seniman untuk membuat karya seni yang bermartabat, berbudaya bangsa dan nilai karya yang tinggi untuk kemuliaan derajat manusia. Tidak hanya mengejar karya instan yang berorientasi pada keuntungan finansial belaka.
4. Adanya kebijakan pembagian spesialisasi penyiaran acara TV Indonesia sesuai bidang dan keperuntukannya. Mesuai umur dan golongan pemirsa, misalnya stasiun TV yang khusus berorientasi menyiarkan berita, teknologi, pengetahuan, budaya, keagamaan, politik, ekonomi, atau dunia anak-anak.
5. Penonton diharapkan lebih cerdas dan selektif dalam memilih acara TV yang bermanfaat, menjauhkan diri dari acara yang seronok, sampah dan bodoh serta mengarahkan, mendampingi anak-anak pada saat menonton acara di TV.

(Fajar Purwawidada, MH., M.Sc.)

Kamis, 20 Februari 2014

FORMATION OF A TERRORIST NETWORK SOLO, INDONESIA

Jamaah Islamiyah Paramilitary Training

INTRODUCTION

Terrorism sounded so thrilling and scary as the action of post are always discussed in all mass media. The impact besides fear itself is a loss of life and property that is priceless.The root of the problem of terrorism is important to uncover for proper prevention and countermeasures against terrorism. Understanding of terrorism requires a long process, as also the process of how the terrorism itself. To understand where the required search of origins and causes the formation of terrorism. There are many forms of terrorism, but its focuses on how terrorist networks Solo, Indonesia. Solo have been terrorist network is the largest network in Indonesia, which has connectivity in various countries and nearly all acts of terrorism in Indonesia is connected to this network. 
  
To understand how the process of formation and what the root of the problem on the Solo terrorist networks, it is also necessary to know the characteristics of the network. Characteristics of terrorist groups will influence the actions to be performed and the determination of the target. Although centered in Solo, but terrorism can not be restricted geographically. The actions can be planned and carried out done outside of Solo. Solo used as a study area because the city is much linked to terrorism and even often referred to as a terrorist.

FORMATION OF TERRORIST NETWORK 

Solo terrorist network formed originated from an association with the West Java Darul Islam that some of its members escape to Solo. The escapees then interact with the character of Solo Darul Islam, Abdullah Sungkar and Abu Bakar Ba’ashir and the founder and leader of Al Mukmin boarding school, Ngruki. Al Mukmin used as cover as a hiding place and consolidation Darul Islam movement. Strong pressure from the New Order government forced the Darul Islam movement with usroh change strategy. 

Some leaders and cadres in Solo, including Abdullah Sungkar and Abu Bakar Ba’ashir did escape to Malaysia. In Malaysia these two men managed to garner support for sending members of the Darul Islam paramilitary training in Afghanistan. Most of them are from members of the group usroh. Both also managed to establish a boarding school as a means of distributing Lukmanul Hakim ideology. Disputes in the body of the Darul Islam to breakdown. Sungkar and Ba'asyir then out of the Darul Islam and founded the Jemaah Islamiyah ( JI ) as a forum for the graduate training of Afghanistan.
 
The political changes in the country with the fall of the New Order Era Reformation and changed into one of the factors that encourage the formation of networks of Solo. During the Reformation Era usroh groups previously prone to be brave appear on the surface, with transformed into a radical Islamic groups in various regions. In Solo is the most widely grown radical Islamic groups. 
  
Political change in Malaysia and then so hard to crush radical Islamic movement including close Lukmanul Hakim boarding school , as well as factors affecting Abdullah Sungkar and Abu Bakar Ba’ashir decided to return to Indonesia (Solo). The establishment of the Islamic Movement Jamaa'ah also largely go into Indonesia melt in radical Islamic groups.
  
But after the death of Abdullah Sungkar and amir of JI position held by Abu Bakar Ba’ashir, the JI members assess Ba’ashir 's leadership is too weak. Moreover, Ba’ashir then became distracted because amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) and Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). JI members were not satisfied with the leadership of Ba’ashir then perform its own movement outside the full control of JI. Formed terrorist groups which are splinter of JI, undergo a separate movement spawned acts of terrorism in the country and is also involved in the conflict in Ambon, North Maluku and Poso.

In Solo terrorist network continues to grow, though the old network groups already uncovered a lot and rolled Detachment 88. The new group appears again. The new group is a group of them Farhan (Abu Musab Al Zarqawi, Al Indonesiy), Thoriq group (Al Qaeda Indonesia) and the Abu Hanifa (Halaqah Sunni for Indonesian Society). Although these new groups are still linked the old network. Members of the old network has continued to seek to regeneration and guidance through the recruitment of new members, most of whom came from members of radical Islamic groups and alumni of Al Mukmin boarding school, Ngruki in Solo.

CAUSES OF TERRORISM

The causes of terrorism are divided into the causes of network Solo Primary, secondary and tertiary. The primary cause of the problem is the main cause of social inequalities both global and national politics. The main problem is the global hegemony of the West and oppressed Muslim countries in the Middle East. While national issues related to the application of Islamic law conflict, religious conflict and contention failed state with an indication of widespread corruption, chaotic law enforcement and management of natural resources so that many foreign-controlled failed welfare of the people. 

For a terrorist group action is a form of resistance and protest to these problems. As terrorism as a form of asymmetric warfare is warfare power unbalanced. Small force against a large force, then the terrorists using secondary sphere as support force. Secondary scope is an emotional relationship religious (Islamic) raised. Incidentally scope of terrorist religion and the problems encountered are related to Islam. Therefore, terrorists use religion to gain sympathetic and mobilizing movements. Justification and the language that is used as if it was based on the verses of the Qur'an and Hadith.

Finally, the cause of the tertiary is not a direct cause, but it can amplify environmental causes such as primary and secondary; culture, poverty, desire for revenge, the influence of the media, religious education, the influence of books and movies.

TERRORIST NETWORK CHARACTERISTICS SOLO


Network characteristics Solo new terrorist groups are relatively the same as the old group, which has a purpose that is politically motivated ; show the existence, fighting for Islam ideology, as well as resistance to power and authority. In addition to the tools and methods used are very similar. The difference is that the new group is still premature, in the sense of not having control of mature techniques and strategies such as the old group. The new group just getting paramilitary training in brief and limited in the local practice area of their seniors. Unlike the old networking group who received direct training in Afghanistan and the Philippines with the facilities, instructors and long time.

Average new group is a small group with members that bit. Organizational form itself is not raw (Organization Without Form) and some even do not have leadership. They are only united by a common purpose and conviction. Members of the terrorist group in Solo comes from radical Islamic groups locally or often called Laskar Jihad group. In addition, based Al Mukmin Boarding School , Ngruki. 

Linkage Al Mukmin is the number of members, even leaders of the group that later became the Army terrorist group are alumni students. Effect of Al Mukmin in the surrounding area is evidenced by village mosques mastered by the group Laskar and then used as the headquarters activities. The spread of radical Islamic ideology is done by way of hard study groups are often filled by a cleric Al Mukmin. In addition the students at Al Mukmin Boarding School also taught about the Islamic teachings regarding the practice of jihad particularly hard.

The new group is more police as a target makes its actions. The shift from the previous target more putting foreign objects is due to the desire for revenge against the police who often use violence against his friends. In addition it is also regarded as a barrier to police his actions. 

Recruitment of new members by the group's terrorist network directed at Solo many young children. Recruitment is done through; boarding school education, lectures, study groups, school organizations, youth organizations, student organizations, friendship and brotherly relations. Solo group member's terrorist network that consists of many young children. To found funding sources to perform an action, terrorist networks Solo group has developed a new way is by doing Hacking cybercrime. This crime has secured billions of dollars and used to finance bombings and paramilitary training. But it is also still perform conventional ways; fa'i or robbery, foreign donors, donation and charity.

Weapons used were obtained from the results of contraband, spoils and assemble themselves. The new group has also developed weapons that are used for the action. Among them using magic com bomb, 3 kg gas cylinder bombs, bombs with broken pieces of metal and develop toxic chemicals. Ability acquired by training bomb by friends or seniors and learn to use manual handwritten hereditary.



( Fajar Purwawidada, MH., M.Sc. )